Hari ini tanggal 30 Januari 2008, hampir genap dua bulan aku tinggal di negara tetangga yang terletak di sebelah utara Pulau Batam. Tawaran untuk pindah dan bekerja di satu perusahaan business intelligence disini yang diajukan via telepon beberapa minggu sebelum Raissa lahir sepertinya kok sayang untuk dilewatkan.
Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Yang paling berat tentunya adalah menerima kenyataan kalau aku pindah ke Singapore, berarti aku harus hidup terpisah dengan Raissa dan mamanya, karena mereka tetap tinggal di Jakarta.
Meski Oom Jaf pernah bilang kalau waktu tempuh normal Singapore - Jakarta itu lebih cepat daripada waktu tempuh Sudirman - Bekasi kalau jam pulang kantor, tapi ya tetap saja… rasanya menempuh Singapore - Jakarta PP setiap akhir pekan bukanlah pilihan yang bagus, karena pasti menghabiskan energi dan jelas akan sangat mengganggu stabilitas moneter, hehehehe…
Makanya itu, aku merasa something is missing in my life for the past 30 days. Mungkin karena sekarang kalau pulang kantor, nggak ada lagi acara menggendong Raissa, mengganti bajunya, membersihkan pup, mengganti pampers-nya, dan kegiatan-kegiatan lain yang lazim dilakukan pria yang baru menjadi ayah.
Yang ada sekarang, setiap pulang kantor dan sampai di apartemen antara jam 8 sampai 9.30 malam, yang selalu aku lihat adalah teman satu apartemen yang sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malamnya. Karena dia dari Sri Lanka, tanpa diberitahu pun aku selalu tahu apa yang sedang dia masak. Apalagi kalau bukan kari… karena sepertinya dia nggak bisa hidup tanpa makan kari barang sehari saja, hehehehe…
Garing memang. Monoton sekali hidup di Singapore ini karena rasanya waktu berjalan sangat lambat. Sendirian, tanpa anak istri, sebagian besar waktu kalau hari kerja selain dihabiskan di kantor (total sekitar sebelas jam) ditambah waktu untuk menempuh perjalanan dari apartemen ke kantor (total sekitar dua jam pulang pergi dengan naik LRT, MRT dan disambung dengan bis), masih ditambah dengan beban pekerjaan yang cukup tinggi disini, yang membuat aku kadang masih harus menghadap komputer di apartemen sampai dinihari.
Hasilnya? Hari ini aku ambruk… migrain-ku kumat dan terpaksa untuk pertama kalinya selama tinggal di Singapore, aku mesti periksa ke dokter untuk mendapatkan surat sakit, berhubung hari ini aku bolos kantor.
Dokter bilang secara keseluruhan kondisiku baik, migrain mungkin timbul karena terlalu banyak kerja di depan komputer, kurang istirahat, dan mungkin juga stress di kantor. Aku hanya disarankan untuk istirahat, minum obat yang diresepkan, dan banyak minum air putih.
Hmm… sepertinya memang aku harus lebih easy going, pasrah dan tawakal. Waktu satu bulan memang belum cukup untuk beradaptasi dengan banyak hal disini. Hidup di negeri orang, jauh dari keluarga, ditambah dengan beban pekerjaan yang cukup tinggi, pastinya memerlukan waktu yang agak panjang untuk beradaptasi secara optimal.
Doakan saja semoga aku bisa survive, karena toh aku pindah bekerja kesini demi masa depan Raissa, dan tentunya tidak lupa juga… demi uang belanja untuk mamanya :)

Rasanya sembilan bulan berlalu begitu saja. Nggak terasa hari Sabtu pagi besok putri kecil kami akan lahir. Sebentar lagi saya akan jadi Mama, sementara Mas Tom menjadi Papa :-)