Rasanya sembilan bulan berlalu begitu saja. Nggak terasa hari Sabtu pagi besok putri kecil kami akan lahir. Sebentar lagi saya akan jadi Mama, sementara Mas Tom menjadi Papa :-)
Semoga semuanya berjalan baik dan lancar. Amiiiiinnnn…
Rasanya sembilan bulan berlalu begitu saja. Nggak terasa hari Sabtu pagi besok putri kecil kami akan lahir. Sebentar lagi saya akan jadi Mama, sementara Mas Tom menjadi Papa :-)
Semoga semuanya berjalan baik dan lancar. Amiiiiinnnn…
Obrolan dev 15 Nov 2007 5 Comments
Setelah membaca posting Ferry di blognya, aku jadi teringat satu pandangan umum dan klasik yang menganggap kalau orang yang tidur siang di kantor adalah orang-orang yang tidak produktif alias pemalas. Yah, mungkin pandangan seperti itu ada benarnya, tapi tidak berarti bisa 100% dianggap benar.
Orang tidur siang di kantor bisa dianggap sebagai pemalas kalau sampai mengabaikan tanggung jawab pekerjaan, dan yang lebih parahnya lagi, tidur siangnya pun sampai dua jam atau bahkan lebih! (wah, ini sih termasuk tipikal nekat bin muka badak…)
Nah, pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya menjadikan tidur siang di kantor sebagai kegiatan yang aman dan dapat dianggap sebagai selingan yang justru meningkatkan produktifitas kerja?
Berdasarkan pengalaman pribadi, ini beberapa trik yang mungkin bisa membantu untuk menjadikan tidur siang sebagai kegiatan yang lebih bermanfaat dan produktif (bahasa kerennya: power nap) ;
1. Jangan tidur siang lebih dari 30 menit
Pada awalnya pasti akan susah, tapi setelah dibiasakan selama kurang lebih empat sampai tujuh hari terus-menerus, tubuh kita akan terbiasa dengan ritme tidur siang dengan waktu yang singkat seperti itu. Jangan lupa setel alarm handphone sebagai weker, supaya jangan sampai tidurnya bablas.
2. Tidur siang dengan posisi berbaring lebih baik daripada tidur dengan posisi duduk
Ini agak sulit, tapi pengalamanku membuktikan tidur siang dalam waktu singkat akan lebih efektif kalau tubuh dalam posisi berbaring. Tidur siang dalam posisi duduk bukan hanya membuat badan kurang rileks, tapi juga malah membuat rasa kantuk semakin bertambah.
Konsekuensinya, tidur siang dengan posisi berbaring memang membutuhkan tempat yang relatif luas (apalagi untuk yang punya tubuh ‘ekstra luas’ juga). Masjid sering menjadi tempat favorit bagi orang-orang yang ingin tidur siang sehabis sholat dluhur berjamaah, tapi dulu ada juga rekan kantor yang cukup menggelar koran di area tangga darurat untuk tidur… bahkan ada yang dengan cueknya tidur beralaskan koran di kolong mejanya (buset, pasti dia sering naik kereta api kelas ekonomi…)
3. Istirahat makan siang adalah waktu terbaik untuk tidur
Jangan curi waktu kerja untuk tidur siang kalau tidak ingin dicap sebagai pemalas. Lebih baik percepat makan siang demi mendapatkan 20-30 menit waktu untuk tidur siang.
4. Memakai kaos oblong membuat tidur siang lebih nyaman
Ini sifatnya memang optional, tapi tidur dengan memakai kaos oblong tidak hanya menimbulkan rasa lebih nyaman di badan, tapi juga mencegah kemeja kantor menjadi kusut (ingat ya… kaos oblong alias t-shirt… bukan kaos dalam alias singlet!)
Apa lagi ya tips lainnya? Hmm… sementara itu dulu deh, nanti kalau ada yang lain pasti posting ini akan di-update.
Serbaneka tom 12 Nov 2007 2 Comments
Rasanya katrok sekali. Setelah sekian lama Google Earth diluncurkan, baru kali ini aku men-download aplikasi yang (katanya) cukup revolusioner ini. Bukannya kenapa-kenapa, dulu aku paling malas men-download aplikasi berukuran lebih dari 20 MB, apalagi kalau aplikasi itu dirasa kurang diperlukan.
Tapi rasa penasaran memang bisa mengalahkan segalanya. Apalagi setelah mengecek quota bandwidth Telkom Speedy untuk bulan ini yang memang baru dimanfaatkan sedikit, akhirnya pagi tadi aku sukses juga men-download aplikasi yang total berukuran lebih dari 22 MB ini dan mencoba melakukan instalasi di laptop dengan sistem operasi Linux Ubuntu.
Untungnya setelah proses instalasi selesai, aplikasi Google Earth ini bisa dijalankan tanpa masalah di laptop, dengan catatan: tidak dalam mode full screen. Karena sepertinya untuk dijalankan dalam mode full screen, Google Earth membutuhkan hardware dengan processor, RAM, video card dan juga koneksi internet yang spesifikasinya jauh lebih tinggi.
Setelah keliling dunia kesana-kemari, tidak afdhol rasanya kalau belum mengetahui posisi detail rumah sendiri melalui Google Earth, dan inilah hasil screenshot-nya :-)
